WAHYUNI
Senin, 28 Januari 2013
Mahasiswa Penyuluhan Pertanian STPP Medan: PERTANIAN ORGANIK MENYELAMATKAN dari ‘SERANGAN’ VI...
Mahasiswa Penyuluhan Pertanian STPP Medan: PERTANIAN ORGANIK MENYELAMATKAN dari ‘SERANGAN’ VI...: Dalam sepekan terakhir kami kliniktaniorganik merasa ikut prihatin dengan terjadinya wabah matinya bebek/itik dalam waktu yang cepat. Suda...
Rabu, 19 Desember 2012
Jika anda ingin melihat keadaan secara umum daerah Bener Meriah silahkan klik disi
http://www.4shared.com/file/84F1KunA/BENER_MERIAH.htmlhttp://www.4shared.com/office/I7RjIQuO/Novel_Ayat_Ayat_Cinta.html
http://www.4shared.com/file/84F1KunA/BENER_MERIAH.htmlhttp://www.4shared.com/office/I7RjIQuO/Novel_Ayat_Ayat_Cinta.html
Rabu, 12 Desember 2012
Radio Rimba Raya Bener Meriah
TUGU warna jingga itu berdiri tegak
di bawah langit tengah hari yang terik, 3 Agustus 2012. Ada lima “tangan”
menghadap ke lima arah. Di tengah tugu berdiri sebuah tiang mirip pemancar
radio.
Tugu ini terletak di tengah kebun kosong. Untuk menuju ke tempat ini bisa melalui jalan kecil beraspal, sekitar 300 meter dari Jalan Takengon-Bireuen.
Tugu ini terletak di tengah kebun kosong. Untuk menuju ke tempat ini bisa melalui jalan kecil beraspal, sekitar 300 meter dari Jalan Takengon-Bireuen.
Di kaki tugu juga dibangun tangga dan tempat duduk bagi pengunjung. Selain
sebagai logo daerah, pemerintah setempat menetapkan tugu ini sebagai objek
wisata bersejarah.
Inilah Tugu Radio Rimba Raya yang terletak di Desa Rime Raya, Bener Meriah. Di bawah "tangan-tangan" tadi ada dua prasasti ukuran besar dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Isinya bercerita tentang peran Radio Rimba Raya memberitakan revolusi 1945 ketika perjuangan melawan Belanda masih menyala-nyala.
Menurut Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter tentang radio tersebut, bentuk tugu sudah beberapa kali mengalami perombakan. Sebelum dirombak, kata Ikmal, pernah diadakan sayembara secara nasional untuk membuat maket tugu. Sayembara dimenangkan warga Takengon. “Saya lupa siapa namanya, tapi bentuknya yang sekarang berbeda dengan gambar yang menang sayembara itu,” ujar Ikmal kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.
Dalam buku berjudul Peranan Radio Rimba Raya terbitan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, disebutkan sebelum di Rime Raya, pemancar radio dipasang di Krueng Simpo. Sementara studionya dibawa ke kediaman Kolonel Husein Yoesoef, Komandan Tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I, di Bireuen.
Radio menggunakan pemancar merek Marcori yang dibawa dari Malaysia oleh Mayor John Lie. Ia penyeludup kelas wahid kala itu yang oleh Belanda di juluki “The Greatest Smuggler of the Southeast”. Perangkat pemancar itu didaratkan di Kuala Yu, Kuala Simpang. Di sana, John Lie disambut Nukum Sanani atas perintah Daud Beureueh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Setelah itu, perangkat radio dibawa ke Langsa dan selanjutnya ke Bireuen.
Namun, versi lain menyebutkan, pada awal agresi militer Belanda pertama, 27 Juli 1947, perangkat pemancar dibawa Kapten NIP Karim (ada yang menulisnya Nip Xarim). Ia Komandan Batalyon B di Tanjung Pura, Langkat.
Karim juga pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Lalu, Husein Yoesoef meminta NIP Karim membawa pemancar ke Bireuen.
Ikmal Gopi yang meneliti riwayat John Lie menyebutkan, sang mayor berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus agresi militer pertama. Baru pada September 1947, kata Ikmal, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan, lalu ke Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.
Yang pasti, tak lama di Bireuen, beberapa bulan kemudian pemancar dipindahkan ke Cot Gue, Kutaraja (Banda Aceh). Alasan pemindahan menurut Ikmal karena kondisi keamanan dan untuk mempercepat pemberitaan perjuangan kemerdekaan.
Di Kutaraja pemancar radio dipasang di Cot Gue, sedangkan studio dibuat dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Peunayong. Antara pemancar dan studio terhubung kabel.
Namun, ketika pemancar di Cot Gue sedang dipasang, Belanda melancarkan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948. Daud Beureueh memerintahkan pemancar dipindahkan ke Gayo.
Seperti tercatat dalam prasasti tadi, setelah Yogya jatuh, Belanda mulai menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia, kecuali Aceh. Sehari kemudian perangkat pemancar diberangkatkan secara diam-diam ke Aceh Tengah, di Kampung Rime Raya, Kecamatan Timang Gajah. Pemancar tersebut akhirnya didirikan di Krueng Simpo, sekitar 20 kilometer dari Bireuen arah Takengon.
Namun masalah timbul, tak ada mesin listrik. Ummi Salamah, istri Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Setelah dicari kabel akhirnya ditemukan di Lampahan dan Bireuen.
Radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio, sedangkan studio radio berada di salah satu kamar rumah Husein Yoesoef.
Pemasangan radio dilakukan beberapa desertir pasukan sekutu, seperti W. Schult, Letnan Satu Candra, Sersan Nagris, Sersan Syamsuddin, Abubakar, dan Letnan Satu Abdulah. Mereka tentara Inggris yang bergabung dengan sekutu.
Para desertir membantu membuat gubuk dan membangun radio sesuai dengan keahlian masing-masing. Studio dibangun di bawah pohon tinggi dan rindang. Antena ditancapkan di atas pohon. Di gubuk juga dipasang pesawat radio penerima berita khusus.
Inilah Tugu Radio Rimba Raya yang terletak di Desa Rime Raya, Bener Meriah. Di bawah "tangan-tangan" tadi ada dua prasasti ukuran besar dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Isinya bercerita tentang peran Radio Rimba Raya memberitakan revolusi 1945 ketika perjuangan melawan Belanda masih menyala-nyala.
Menurut Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter tentang radio tersebut, bentuk tugu sudah beberapa kali mengalami perombakan. Sebelum dirombak, kata Ikmal, pernah diadakan sayembara secara nasional untuk membuat maket tugu. Sayembara dimenangkan warga Takengon. “Saya lupa siapa namanya, tapi bentuknya yang sekarang berbeda dengan gambar yang menang sayembara itu,” ujar Ikmal kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.
Dalam buku berjudul Peranan Radio Rimba Raya terbitan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, disebutkan sebelum di Rime Raya, pemancar radio dipasang di Krueng Simpo. Sementara studionya dibawa ke kediaman Kolonel Husein Yoesoef, Komandan Tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I, di Bireuen.
Radio menggunakan pemancar merek Marcori yang dibawa dari Malaysia oleh Mayor John Lie. Ia penyeludup kelas wahid kala itu yang oleh Belanda di juluki “The Greatest Smuggler of the Southeast”. Perangkat pemancar itu didaratkan di Kuala Yu, Kuala Simpang. Di sana, John Lie disambut Nukum Sanani atas perintah Daud Beureueh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Setelah itu, perangkat radio dibawa ke Langsa dan selanjutnya ke Bireuen.
Namun, versi lain menyebutkan, pada awal agresi militer Belanda pertama, 27 Juli 1947, perangkat pemancar dibawa Kapten NIP Karim (ada yang menulisnya Nip Xarim). Ia Komandan Batalyon B di Tanjung Pura, Langkat.
Karim juga pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Lalu, Husein Yoesoef meminta NIP Karim membawa pemancar ke Bireuen.
Ikmal Gopi yang meneliti riwayat John Lie menyebutkan, sang mayor berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus agresi militer pertama. Baru pada September 1947, kata Ikmal, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan, lalu ke Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.
Yang pasti, tak lama di Bireuen, beberapa bulan kemudian pemancar dipindahkan ke Cot Gue, Kutaraja (Banda Aceh). Alasan pemindahan menurut Ikmal karena kondisi keamanan dan untuk mempercepat pemberitaan perjuangan kemerdekaan.
Di Kutaraja pemancar radio dipasang di Cot Gue, sedangkan studio dibuat dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Peunayong. Antara pemancar dan studio terhubung kabel.
Namun, ketika pemancar di Cot Gue sedang dipasang, Belanda melancarkan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948. Daud Beureueh memerintahkan pemancar dipindahkan ke Gayo.
Seperti tercatat dalam prasasti tadi, setelah Yogya jatuh, Belanda mulai menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia, kecuali Aceh. Sehari kemudian perangkat pemancar diberangkatkan secara diam-diam ke Aceh Tengah, di Kampung Rime Raya, Kecamatan Timang Gajah. Pemancar tersebut akhirnya didirikan di Krueng Simpo, sekitar 20 kilometer dari Bireuen arah Takengon.
Namun masalah timbul, tak ada mesin listrik. Ummi Salamah, istri Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Setelah dicari kabel akhirnya ditemukan di Lampahan dan Bireuen.
Radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio, sedangkan studio radio berada di salah satu kamar rumah Husein Yoesoef.
Pemasangan radio dilakukan beberapa desertir pasukan sekutu, seperti W. Schult, Letnan Satu Candra, Sersan Nagris, Sersan Syamsuddin, Abubakar, dan Letnan Satu Abdulah. Mereka tentara Inggris yang bergabung dengan sekutu.
Para desertir membantu membuat gubuk dan membangun radio sesuai dengan keahlian masing-masing. Studio dibangun di bawah pohon tinggi dan rindang. Antena ditancapkan di atas pohon. Di gubuk juga dipasang pesawat radio penerima berita khusus.
Dengan mesin diesel, radio mengudara sejak pukul
16.00 hingga 18.00 WIB. Selain bahasa Indonesia, beberapa bahasa asing
digunakan saat siaran seperti Inggris, Belanda, Arab, Cina, Urdu, India, dan
Pakistan Madras.
Para desertir itulah yang menyiarkan siaran dalam bahasa asing. Seperti tertera dalam prasasti di bawah tugu, sesudah mengudara menembus angkasa, Radio Rimba Raya mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.
Para desertir itulah yang menyiarkan siaran dalam bahasa asing. Seperti tertera dalam prasasti di bawah tugu, sesudah mengudara menembus angkasa, Radio Rimba Raya mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.
CARA MEMBUAT MIE DARI TEPUNG MOKAF
1. Mie MOCAF
Mie adalah
salah satu bentuk olahan pangan sumber karbohidrat yang dapat digunakan sebagai
alternative makanan pokok. Mie merupakan
produk yang dibuat dari adonan terigu dengan bentuk spiral yang khas dengan
diameter antara 0.07-1.25 inci (Matz, 1992).
Sebagai makanan pengganti nasi, mie sangat praktis dalam
penyajian dan mengenyangkan. Ada 2 jenis yang beredar dipasaran, yakni : 1. Mie
Basah atau disebut juga dengan mie kuning , yakni mie yang sudah mengalami
proses perebusan setelah tahap pemotogan tanpa mengalami proses pengerringan
sebelum dipasarkan. 2. Mie Kering atau mie instant adalah mie yang mengalami
proses perebusan yang kemudian dikeringkan terlebih dahulu sebelum dipasarkan.
Dari ke 2 jenis mie tersebut tentu saja mie basah yang memiliki kadar air yang
lebih tinggi yakni ± 50 % sehingga keawetannyapun cukup singkat (± 10 – 12 jam
) setelah itu mie akan berbau asam, berlendir dan mengalami perubahan warna dan
kemudian akan basi.
Ketergantungan terigu sebagai bahan pokok mie
sebenarnya tidak terlepas dari peranan protein gluten untuk menghasilkan
tekstur mie yang kenyal. Untuk mengatasi
ketergantungan penggunaan terigu sebagai bahan pokok pada berbagai produk
pangan, maka dapat dilakukan dengan upaya subtitusi sebagian peranan pati dalan
terigu dengan tepung MOCAF.
Bahan :
|
1.
60 gr Tepung mocaf
2.
140 gr Tepung terigu protein tinggi
3.
¼ sdt Garam
4.
¼ sdt CMC (pengikat dari pati2an)
|
5.
¼ sdt STPP (pengenyal mie dan melenturkan mie)
6.
68 ml Air
7.
1 butir telur ayam
8.
Minyak goreng
|
Alat :
|
1. Alat pencetak dan pemotong mie
2. Baskom /wadah plastic
3. Panci
|
4.
Kompor
5.
Ayakan
6.
Timbangan
|
Cara Membuat :
1.
Campurkan
tepung terigu protein tinggi, mocaf, garam, CMC, dan STPP dalam wadah plastik.
2.
Tambahkan
air, aduk rata lalu gumpalkan.
3.
Giling
adonan dengan gilingan mie dari ukuran terbesar sampai ukuran no.2 tiap ukuran
gilingan, digiling 2-3 kali sampai licin.
4.
Potong-potong
menggunakan gilingan mie.
5.
Rebus
dalam air mendidih kurang lebih 2 menit, lalu angkat kemudian lumuri minyak
goreng, aduk rata.
Mie yang baik mempunyai ciri kenyal,
waqrna mie rata, tidak mudak lembek bila direbus, dan rasa mie yang lebut.
Penggunaan tepung MOCAF lebih dari 30 persen sebagai subtitusi dengan tepung
terigu pada pembuatan mie akan menghasilkan mie yang muedah putus dan sedikit
lembek. Untuk itu perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1)
Sebelum
digiling, diamkan adonan selama 15 menit agar adonan tidak mudah putus (kenyal)
Masukkan hasil mie yang telah digiling ke dalam plastik, agar warna tidak cepat
berubah.
2)
Perebusan
Mie : Membuat mie dengan tepung terigu protein rendah memerlukan waktu
perebusan yang lebih singkat dibandingkan dengan mie yang dibuat dengan
menggunakan tepung terigu protein tinggi. Mie yang dibuat dengan tepung terigu
berprotein rendah akan cepat lembek bila direbus agak lama.
3)
Telur
juga dapat ditambahkan ke dalam adonan mie sehingga citarasa mie menjadi lebih
gurih dan warnanya menjadi lebih kuning. Untuk mendapatkan mie yang memiliki
warna kuning yang menarik dapat dipadukan dengan labu yang telah dikukus
4)
Tutup
selalu adonan mie dengan plastik atau lap lembab supaya mie tidak kering dan
putus saat digiling.
Pengenyal ( STPP = Sodium Tri Poly
Phosphat ) , karena sifatnya yang dapat mempengaruhi terbentuknya gluten pada
mie, sehingga sangat berpengaruh terhadap tekstur mie yang dihasilkan, dimana
tekstur mie akan menjadi lebih liat. Selain itu STPP juga dapat mengikat air
sehingga dapat menurunkan aktivitas air sehingga kerusakan karena factor
mikroba dapat dicegah. Penggunaan bahan ini sebesar 0,25 % dari jumlah adonan.
CMC ( Carboxymethyl Cellulose ), penggunaannya sebesar 0,5 % akan dapat
meningkatkan kekenyalan dan keliatan, tidak lengket dan licin. CMC juga
berfungsi agar mie menjadi lebih elastis dan tidak mudah menjadi bubur /mblobor
( red : Bhs. Jawa ) apabila mie dimasak. Sedangkan pada mie kering dapat
sebagai pengikat bahan-bahan lain dan memberikan tekstur mie yang halus setelah
direbus. -Soda Kie S dan Soda Kie P, berfungsi sebagai pembantu pembentukan
gluten sehingga mie tidak keras tetapi kenyal. Soda kie sama dengan soda abu,
orang jaman dulu membuat air kie dengan cara membakar merang sampai menjadi
abu, lalu ditambahkan air, setelah direndam 1 malam. Air bening yang diatas
diambil. Namanya air kie( merupakan larutan soda abu). Soda abu nama kimianya
Sodium Carbonate yang sering disebut dengan Soda Kie S.
Kamis, 04 Oktober 2012
CONTOH LPM PENYULUHAN
Lampiran
2.
Lembar Persiapan Menyuluh (LPM) 1
Judul
|
:
|
1. Pengenalan
Kompos Jerami dengan Dekomposer Gula dan Ragi
2. Pembuatan
Kompos Jerami Menggunakan Dekomposer Gula dan Ragi
|
TIK
|
:
|
1. Sasaran
dapat menyebutkan alat dan bahan pembuatan kompos
2. Sasaran
dapat menjelaskan langkah-langkah pembuatan kompos
3. Sasaran
dapat mempraktekkan pembuatan kompos sesuai petunjuk
|
Metoda
|
:
|
Ceramah, demonstrasi cara
|
Media
|
:
|
Peta Singkap (flipchart), folder
|
Alat dan bahan
|
:
|
Ember, parang untuk mencacah
jerami, jerami padi, gula pasir, ragi tape, pupuk kandang, hijauan (daun
Tithonia) plastik penutup bahan
|
Waktu
|
:
|
110 menit
|
No.
|
Uraian Kegiatan
|
Waktu
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
Pembukaan
Post Test
Penyampaian materi pembuatan kompos jerami dengan
menggunakan dekomposer gula dan ragi
Praktek pembuatan kompos jerami dengan menggunakan
dekomposer gula dan ragi
Diskusi
Evaluasi dan penutup
|
10 menit
10 menit
20 menit
45 menit
15 menit
10 menit
|
100 menit
|
Langganan:
Komentar (Atom)
